Langsung ke konten utama

Postingan

Surat untuk Wai Tsz

                 Thanked to my lovely friends Echa, Ikhsan, and Arni for this project. Well, this is our assignment  when we're senior high school before. I feel dear to thrown it away. Well, enjoy it !  https://drive.google.com/file/d/0ByhzU_IGZ3ukSGZtMEUzOHdWRVE/view?usp=drivesdk  made on 21 Oktober 2016     Jadi, itu tugas rekaman waktu kelas sebelas di SMA dulu. Dibuang sayang. Silahkan copy dan buka di page baru. Selamat menikmati :)

GWERB (1)

Kepada Tuan yang baru di hari ini kita terasa saling dekat. Ada banyak pria, tapi rasa ini, entah mengapa, ada. " Jangan menatapku dengan gaya, Tuan. Nanti aku suka, bagaimana ?" Dan aku terlambat untuk memberi tahu hingga akhirnya kau sukses, sedikit. Huh. Apa-apaan ini.    "Jangan lagi ya, Tuan. Aku khawatir, itu semua akan merubah segalanya. Duniaku, maksudku" Tapi bagaimana bila kau datang lagi, dengan gaya yang sama, gaya yang kau buat itu .  " Tuan, jangan sekarang. Kau boleh datang, tapi tidak saat ini"  

Kepada Tuhan (2)

Tuhan... Aku khawatir bila aku akan jatuh cinta kelak. Engkau tahu benar, jenis rasa suka apa yang aku maksud ini. Iya, rasa suka yang duluan menembus hatiku bahkan tanpa meminta izin. Rasa itu muncul saja, atau aku yang terus memancing kehadirannya tanpa sadar. Aku khawatir, Tuhan. Bagaimana bila aku menemukan sosok dia yang aku cari. Bagaimana bila aku jatuh hati padanya ? Di usiaku yang belum pasti dapat dikatakan boleh untuk memiliki hubungan. Karena pada saat itu aku yakin, akan ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Aku khawatir, Tuhan.. Atau, bagaimana jika dia yang datang ? Dengan  berani dia bawa dirinya padaku. Mengatakan bahwa dia ingin menetap. Dan berjanji akan berada di tempat yang sama. Dan berlaku bahwa ' semua akan baik-baik saja, Lu' Tidak. Dia salah. Benar, kan? Karena sebaik-baiknya ada yang menyukaiku, dia tidak harus menunjukkannya. Dia tidak harus berbuat banyak untuk itu, terutama agar aku tahu. Karena, bila aku menyukaimu pun, akan kucoba ...

BOLEH, ASAL BERBATAS

     Sesuatu yang berfaedah Lu, ingat!       Menyukai itu seperlunya saja, kawan. Juga, cukup kamu dan Tuhan yang tahu. Mereka jangan.         Jadi gini, penulisan ini mungkin terinspirasi dari diriku sendiri. Iya, aku yang dulu. Masa jahiliyah-nya seorang aku. Juga, oleh beberapa fangirl.  Mungkin, ada banyak definisi fangirl di luar sana. Paham yang kita bahas, yaitu fangirl yang terlalu overload ke doi ya, kawan. Yang mengorientasikan waktu dan materinya ke doi. Atau yang over responsive kalau ketemu doi-nya.     Tapi, jangan salah juga sih . Aku juga pernah jadi fangirl . Iya, waktu masih awal-awal masuk sekolah menengah atas. Jadi adik kelas yang unyu-unyu gitu . Untungnya excited fangirl -nya ke-kubur dalam hati , apalagi kalau ketemu. Ayolah, untuk apa kita cengar-cengir tak jelas. Dia bukan Shawn Mendes, atau juga Justin Beiber, kan?      Berdasarkan pengalaman pribadi. ...

PERPISAHAN BERBUAH LUKA

      Dari dulu, aku tidak menyukai perpisahan . Iya, entahlah 'dulu' yang mana yang kusebut ini. Mungkin, karena perpisahan membuat aku mengenang hal-hal yang telah terjadi. Buruk ataupun indah. Kenangan indah akan terasa menyakitkan juga, bagiku. Iya, aku akan merindui itu. Tapi, untungnya aku tidak pandai mengingat hal-hal buruk yang sudah terjadi.         Aku tidak tahu mengapa mengingat kembali membuat aku ingin ke masa-masa itu. Dalam hal apapun. Sedihkah atau senangkah.  Salam perpisahan, juga. Membuat seakan-akan sebuah pertemuan atau hubungan cukup sampai di titik itu dulu. Kalimat yang kuterima, atau ucapan yang kudengar langsung ter-tata begitu saja. Tidak tahu mengapa, jangan ucapkan kalimat perpisahan padaku, teman.  Sekian,  from an overly sensitive heart.

DEHIDRASI

   Hari ini, hari yang menguras mineral tubuh. Bagaimana tidak ?    Jadi, awal mulanya, sekitar jam 14.00 siang tadi, ada panggilan tiba- tiba dari keluarga untuk ziarah. Aku,  diumur tujuh belas yang belum pernah melakukan ziarah ini merasa ‘ingin melakukan ziarah’. Mama nggak bisa ikut dan akhirnya aku ikut bersama keluarga besar. Iya, kali ini kita ziarah-in makam-nya Almarhum Kakek, juga Mamanya, dan Almarhum Paman.     Aku gak tau apa yang mesti dibawa atau dipersiapkan. Mama cuman berpesan “Jangan lupa dibaca-in Lu, nanti bacain Al -Fatihah... “. Sudah, hanya itu kalimat yang kudengar, juga kuingat. Alhasil, aku langsung siap-siap mengajukan diri untuk ikut. Pas udah ngambil tas dari kamar malah ditegur Mama. "Nggak perlu paket tas-lah", katanya. Yaudah, aku cuman membawa handphone dan jalan ke rumah tante yang berjarak satu rumah, biar sama-sama.     Sampai-pun di makam. Keluargaku melihati kondisi makam, m...

PERSEPSI YANG SALAH

   Kita sering melihat sebuah masalah sebagai masalah. Atau juga, menganggap masalah sebagai ujian atau balasan. Iya balasan, bukan karma, teman. Itu berbeda.          Tapi, apa faedahnya kita memahami 'persepsi'  ini ?     Sebenarnya, aku tak begitu tertarik menyampaikan hal- hal yang berbau anjuran ataupun nasihat. Iya, sebenarnya. Biasanya, setelah seorang Aku memberitahukan hal-hal yang benar, Tuhan akan segera menimpalkan ujian.  Because, i was thougt that life is studying . Iya, belajar, belajar dengan caranya masing-masing. Setelah bisa membandingkan hal yang benar dan salah, barulah kita memahami. Dan, bisa jadi tertarik untuk memberitahukan orang lain juga, mengenai hal yang benar dan salah.  Barulah, menurutku,   Tuhan akan memberikan tes.  Dari anggapan tadi mampukah kamu mempertahankan-nya.  Yang memang sebenarnya benar. Cuman, kamu dituntut untuk bisa memegang pemahaman kamu t...