Tuhan...
Aku khawatir bila aku akan jatuh cinta kelak.
Engkau tahu benar, jenis rasa suka apa yang aku maksud ini.
Iya, rasa suka yang duluan menembus hatiku bahkan tanpa meminta izin. Rasa itu muncul saja, atau aku yang terus memancing kehadirannya tanpa sadar.
Aku khawatir, Tuhan.
Bagaimana bila aku menemukan sosok dia yang aku cari.
Bagaimana bila aku jatuh hati padanya ? Di usiaku yang belum pasti dapat dikatakan boleh untuk memiliki hubungan. Karena pada saat itu aku yakin, akan ada banyak hal yang harus aku selesaikan.
Aku khawatir, Tuhan..
Atau, bagaimana jika dia yang datang ? Dengan berani dia bawa dirinya padaku. Mengatakan bahwa dia ingin menetap. Dan berjanji akan berada di tempat yang sama. Dan berlaku bahwa ' semua akan baik-baik saja, Lu'
Tidak.
Dia salah. Benar, kan?
Karena sebaik-baiknya ada yang menyukaiku, dia tidak harus menunjukkannya. Dia tidak harus berbuat banyak untuk itu, terutama agar aku tahu. Karena, bila aku menyukaimu pun, akan kucoba simpan kartu rasa itu di rak hatiku yang paling dalam.
Namun, bagaimana bila ia ingin aku mengetahuinya ? Dia muak untuk terus bermuka dua seakan dia tidak memiliki hati yang tidak dapat merasakan apapun. Biar kukatakan, bicaralah dengan Tuhanmu. Apa kau akan benar-benar menyelipakan aku dalam do'a dan menghadap Tuhan dengan keberanian yang sama ?
Bilapun kau tidak tertarik melakukannya. Mungkin, rasa itu hanyalah syahwat belaka. Syaithan yang terus merong-rong di kedua telingamu juga hatimu yang terus mendapat bisikan darinya. Karena kau paham benar, sukamu bukan karena Tuhan.
Aku khawatir bila aku akan jatuh cinta kelak.
Engkau tahu benar, jenis rasa suka apa yang aku maksud ini.
Iya, rasa suka yang duluan menembus hatiku bahkan tanpa meminta izin. Rasa itu muncul saja, atau aku yang terus memancing kehadirannya tanpa sadar.
Aku khawatir, Tuhan.
Bagaimana bila aku menemukan sosok dia yang aku cari.
Bagaimana bila aku jatuh hati padanya ? Di usiaku yang belum pasti dapat dikatakan boleh untuk memiliki hubungan. Karena pada saat itu aku yakin, akan ada banyak hal yang harus aku selesaikan.
Aku khawatir, Tuhan..
Atau, bagaimana jika dia yang datang ? Dengan berani dia bawa dirinya padaku. Mengatakan bahwa dia ingin menetap. Dan berjanji akan berada di tempat yang sama. Dan berlaku bahwa ' semua akan baik-baik saja, Lu'
Tidak.
Dia salah. Benar, kan?
Karena sebaik-baiknya ada yang menyukaiku, dia tidak harus menunjukkannya. Dia tidak harus berbuat banyak untuk itu, terutama agar aku tahu. Karena, bila aku menyukaimu pun, akan kucoba simpan kartu rasa itu di rak hatiku yang paling dalam.
Namun, bagaimana bila ia ingin aku mengetahuinya ? Dia muak untuk terus bermuka dua seakan dia tidak memiliki hati yang tidak dapat merasakan apapun. Biar kukatakan, bicaralah dengan Tuhanmu. Apa kau akan benar-benar menyelipakan aku dalam do'a dan menghadap Tuhan dengan keberanian yang sama ?
Bilapun kau tidak tertarik melakukannya. Mungkin, rasa itu hanyalah syahwat belaka. Syaithan yang terus merong-rong di kedua telingamu juga hatimu yang terus mendapat bisikan darinya. Karena kau paham benar, sukamu bukan karena Tuhan.
Komentar
Posting Komentar