Langsung ke konten utama

How Was Your Limit Time?

 

    Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “You just have a limit time, bro.

        Pulang, kita semua pasti pulang. Entah kapan, hari ini, besok, atau minggu depan, hanya catatanNya yang mampu menyimpan rapat rahasia penjemputan itu.

       Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics.

      Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam membandingkan, kamu hanya menzhalimi diri sendiri, padahal sudah jelas, kita semua hidup dengan kadar terbaikNya.

        Panggung sandiwara yang sedang kita lakoni ini, tidak ada yang tahu kapan akan berakhir. Tapi, tugas kita adalah memainkan perannya. If someone would asking, “Is not every single things that happened had been written, then, why do I need to do a good deeds ?” Ya, jika seluruh ketetapan sudah tertulis, termasuk amal baik dan buruk, mengapa harus berlelah diri pula ?

        Bukankah ini bagian yang menjadi peran dan tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin? Mari tengok sejarah air zam-zam dahulu kala, bukankah itu menjadi salah satu hasil ikhtiar seorang wanita bernama Hajar, yang mana tatkala Nabi Ibrahim AS meninggalkannya, ketegaan di hati beliau luput akan Dzat ar-Rahman wa Rahim. Berlarilah Hajar dari Safa ke Marwah sebagai bentuk ikhtiarnya menghadapi ketidakberadayaanya kala itu.

        Kembali ke topik utama, semoga kabar duka yang kian terdengar bukan hanya laluan pemberitaan. Namun juga, sindiran halus ke diri sendiri, “How was your limit time, nduk?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

Sampai Kapan?

 Belakangan banyak aku bertanya, apakah hidup yang kujalani sudah sesuai yang aku inginkan. Haha hidup memang gak bakal sepenuhnya sama seperti dambaan kita, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk berproses dan berencana, jika diberi, maka alhamdulillah, kalau belum berarti ada hal lain yang sudah disiapkan. Beginilah kisah kegalauanku wkwk.. Menginjak usia dua puluh empat tahun terkadang bikin aku was was sendiri, iya, gak baik emang. Rasa-rasanya aku sudah mulai menapaki kehidupan, ceilah. Jadi dewasa terkadang terasa begitu menakutkan. Seberapa mandiri aku kini? Seberapa bisa aku hidup besok jika orang tuaku sudah tua renta, tidak ada lagi tempat untukku mengurai masalah dan tujuan akhir kalau aku terdesak ekonomi wkwkw. Tenang gais, aku udah kerja kok, cuma masih belum pinter aja ngelola keuangan. Jadi kepikiran aja nanti kalau terus-terusan gini kan gak baik ya. Alhamdulillah aku masih tinggal sama mama, juga kedua orang tuaku alhamdulillah masih ada dan sehat wal afiat. ...