Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “You just have a limit time, bro.”
Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics.
Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam membandingkan, kamu hanya menzhalimi diri sendiri, padahal sudah jelas, kita semua hidup dengan kadar terbaikNya.
Panggung sandiwara yang sedang kita lakoni ini, tidak ada yang tahu kapan akan berakhir. Tapi, tugas kita adalah memainkan perannya. If someone would asking, “Is not every single things that happened had been written, then, why do I need to do a good deeds ?” Ya, jika seluruh ketetapan sudah tertulis, termasuk amal baik dan buruk, mengapa harus berlelah diri pula ?
Bukankah ini bagian yang menjadi peran dan tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin? Mari tengok sejarah air zam-zam dahulu kala, bukankah itu menjadi salah satu hasil ikhtiar seorang wanita bernama Hajar, yang mana tatkala Nabi Ibrahim AS meninggalkannya, ketegaan di hati beliau luput akan Dzat ar-Rahman wa Rahim. Berlarilah Hajar dari Safa ke Marwah sebagai bentuk ikhtiarnya menghadapi ketidakberadayaanya kala itu.
Kembali ke topik utama, semoga kabar duka yang kian terdengar bukan hanya laluan pemberitaan. Namun juga, sindiran halus ke diri sendiri, “How was your limit time, nduk?”
Komentar
Posting Komentar