Langsung ke konten utama

Sampai Kapan?

 Belakangan banyak aku bertanya, apakah hidup yang kujalani sudah sesuai yang aku inginkan. Haha hidup memang gak bakal sepenuhnya sama seperti dambaan kita, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk berproses dan berencana, jika diberi, maka alhamdulillah, kalau belum berarti ada hal lain yang sudah disiapkan. Beginilah kisah kegalauanku wkwk..

Menginjak usia dua puluh empat tahun terkadang bikin aku was was sendiri, iya, gak baik emang. Rasa-rasanya aku sudah mulai menapaki kehidupan, ceilah. Jadi dewasa terkadang terasa begitu menakutkan. Seberapa mandiri aku kini? Seberapa bisa aku hidup besok jika orang tuaku sudah tua renta, tidak ada lagi tempat untukku mengurai masalah dan tujuan akhir kalau aku terdesak ekonomi wkwkw. Tenang gais, aku udah kerja kok, cuma masih belum pinter aja ngelola keuangan. Jadi kepikiran aja nanti kalau terus-terusan gini kan gak baik ya. Alhamdulillah aku masih tinggal sama mama, juga kedua orang tuaku alhamdulillah masih ada dan sehat wal afiat. Solusi untukku apa? ya manajemen finansial dan upgrade sumber pencarian kalau perlu, perlu ditimang dan ditinjau lagi seberapa besar kebutuhan dan keinginan yg harus dipisahkan ini. 

Kegalauanku belum berakhir disini. Beberapa waktu lalu aku agak shock *dikit* waktu temenku bilang, "Lu, curiga deh kamu gak normal". Wkwkwk. Dia pikir gitu karena selama di kuliah itu aku gak mau deketan sama anak cowo gais. Yah gimana, namanya juga masih sekolah, mana bisa pikiran dibagi dua, yang ada seret salah satunya. Ditambah waktu dia nanyain hilal aku jawabin seakan gak ada ambisi kesana hwahwahwaaa.. Iya, emang lagi capek aja. Capek banget. Mungkin karena kisah asmaraku belum semulus itu. 

Omong-omong asrama, eh asmara, aku memang baru mulai membuka hati, mengenal lelaki di fase akhir kuliah a.k.a skripsian, hehe. Ya, aku sekuno itu. Benar-benar gak tau tentang laki-laki wkwk. Taunya selama ini nyuekin :') dan journey aku dimulai di masa itu sampai saat ini hehe. Kurasa cukup sudah, hubungan asmara yg gak mulus memberikan aku banyak pelajaran dan insight baru lagi. Aku akan mulai membuka hati lagi kalau aku sudah benar-benar mantap dan yakin untuk menikah. Karena insyaaAllah, kita bisa merasakan banget saat kita sudah clear dengan diri sendiri, mana yang bisa dan tidak bisa diterima dari sisi pasangan. Aku juga gak sempurna, tapi untuk hal-hal esensi, mari kita tidak menyepelekan, ya. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

Highly Sensitive Person (HSP)

     Setengah hari kemarin saya habiskan untuk menonton serial drama turki, Marasli, di Youtube. Nyaris selesai ditonton dari jumlah series yang tersedia hingga sadar ternyata series itu belum tamat. Mendadak tak bersemangat melanjutkan. Anggap saja, ini intuisi hati supaya di akhir episode yang ada tidak kecewa, penuh tanya, atau menerima realita kalau episode berikutnya akan tayang satu minggu lagi (minimalnya).    Hal sederhana yang mulai mengganggu adalah ternyata efek dari film itu benar-benar terbawa, baik emosi warna-warni seorang gadis bernama 'Mahur', gaya bahasa, juga potongan kejadian di film itu juga terasa berkeliling di kepala dalam beberapa waktu. Hal ini tentunya bisa dianggap wajar karena normal pada dasarnya merasa begitu. Namun tidak hingga saya menyadari bahwa semua yang dirasakan 'agak' mengganggu.    Dimulai dari saya yang telah mengakhiri aktivitas berselancar di medsos untuk tidur, my mind gave me some thoughts to be think of ...

Terima Kasih

Sudah seberapa sering kita berterima kasih pada diri sendiri. Untuk usahanya, lelahnya, juga hal lainnya yang patut kita syukuri. Belakangan ini kayanya agak jarang, ya. Ujian yang suka sekali datang bukan hal sederhana yg bisa diminta mengalir begitu saja, meskipun maunya juga begitu. Kadang, merasa baper sendiri, "Ya Allah.. beneran ini ujianku gini..?" Wkwk gitu amat ya. Bahkan saat capek-capeknya keingat ujian itu kan sebenarnya dalam batas mampu kita. La yukallifullahu nafsan illa wus'aha . Malah belakangan suka mikir, ya Allah bisa gak aku gak usah dikasih kemampuan dalam hal ini aja, biar masalahnya gak seberat ini. Bisa dicukupin aja, gak?. Hehe, berat kali ya nak. Tapi sesuai dengan judul ini, kita gak akan bahas rasa lelah dari hal-hal yang sudah terjadi. Semua pada dasarnya adalah proses. Allah menempatkan kita pada posisi-posisi tertentu tentu karena kita bisa melewatinya, entah dengan terseok, berjalan, atau pula berlari. Gapapa, nak. Ada pelajaran dari setia...