Langsung ke konten utama

BOLEH, ASAL BERBATAS



     Sesuatu yang berfaedah Lu, ingat! 

    Menyukai itu seperlunya saja, kawan. Juga, cukup kamu dan Tuhan yang tahu. Mereka jangan.
   
    Jadi gini, penulisan ini mungkin terinspirasi dari diriku sendiri. Iya, aku yang dulu. Masa jahiliyah-nya seorang aku. Juga, oleh beberapa fangirl. Mungkin, ada banyak definisi fangirl di luar sana. Paham yang kita bahas, yaitu fangirl yang terlalu overload ke doi ya, kawan. Yang mengorientasikan waktu dan materinya ke doi. Atau yang over responsive kalau ketemu doi-nya. 

   Tapi, jangan salah juga sih. Aku juga pernah jadi fangirl. Iya, waktu masih awal-awal masuk sekolah menengah atas. Jadi adik kelas yang unyu-unyu gitu. Untungnya excited fangirl-nya ke-kubur dalam hati, apalagi kalau ketemu. Ayolah, untuk apa kita cengar-cengir tak jelas. Dia bukan Shawn Mendes, atau juga Justin Beiber, kan? 

    Berdasarkan pengalaman pribadi. Menurutku, sebaik-baiknya suka adalah tidak ditunjukkan. Kecuali kamu memang udah mau ngelamar, atau apalah. Suka itu, cukup kamu dan Tuhan yang tahu. Mereka jangan. Suka tanpa diketahui juga punya kesan sendiri, nggak buang-buang waktu, juga materi. Tapi, tiap orang kan beda-beda, juga punya caranya masing-masing. Hm, menurutku tetap saja. Jangan ditunjukkan. 

   Balik lagi. Suka itu boleh, boleh banget malah. Iyalah, kan fitrahnya kita suka-sukaan ke doi. Tapi, 'menyukai' juga punya batasan. Kenapa diwanti-wantiin pada fangirl? Karena kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu dan materinya ber-orientasikan ke doi. Rugi nggak, sih? 

    Iya, at last. Ingat aja baik-baik. Meskipun doi kamu itu ganteng bagi kamu sejagad raya, tetap aja masih ada Nabi Yusuf. Yang perempuan-perempuan kalo ngeliat dia aja, jarinya sampai ke iris pisau pas ngupas apel. Inget aja gitu. 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

Highly Sensitive Person (HSP)

     Setengah hari kemarin saya habiskan untuk menonton serial drama turki, Marasli, di Youtube. Nyaris selesai ditonton dari jumlah series yang tersedia hingga sadar ternyata series itu belum tamat. Mendadak tak bersemangat melanjutkan. Anggap saja, ini intuisi hati supaya di akhir episode yang ada tidak kecewa, penuh tanya, atau menerima realita kalau episode berikutnya akan tayang satu minggu lagi (minimalnya).    Hal sederhana yang mulai mengganggu adalah ternyata efek dari film itu benar-benar terbawa, baik emosi warna-warni seorang gadis bernama 'Mahur', gaya bahasa, juga potongan kejadian di film itu juga terasa berkeliling di kepala dalam beberapa waktu. Hal ini tentunya bisa dianggap wajar karena normal pada dasarnya merasa begitu. Namun tidak hingga saya menyadari bahwa semua yang dirasakan 'agak' mengganggu.    Dimulai dari saya yang telah mengakhiri aktivitas berselancar di medsos untuk tidur, my mind gave me some thoughts to be think of ...

Terima Kasih

Sudah seberapa sering kita berterima kasih pada diri sendiri. Untuk usahanya, lelahnya, juga hal lainnya yang patut kita syukuri. Belakangan ini kayanya agak jarang, ya. Ujian yang suka sekali datang bukan hal sederhana yg bisa diminta mengalir begitu saja, meskipun maunya juga begitu. Kadang, merasa baper sendiri, "Ya Allah.. beneran ini ujianku gini..?" Wkwk gitu amat ya. Bahkan saat capek-capeknya keingat ujian itu kan sebenarnya dalam batas mampu kita. La yukallifullahu nafsan illa wus'aha . Malah belakangan suka mikir, ya Allah bisa gak aku gak usah dikasih kemampuan dalam hal ini aja, biar masalahnya gak seberat ini. Bisa dicukupin aja, gak?. Hehe, berat kali ya nak. Tapi sesuai dengan judul ini, kita gak akan bahas rasa lelah dari hal-hal yang sudah terjadi. Semua pada dasarnya adalah proses. Allah menempatkan kita pada posisi-posisi tertentu tentu karena kita bisa melewatinya, entah dengan terseok, berjalan, atau pula berlari. Gapapa, nak. Ada pelajaran dari setia...