Langsung ke konten utama

PERSEPSI YANG SALAH



   Kita sering melihat sebuah masalah sebagai masalah. Atau juga, menganggap masalah sebagai ujian atau balasan. Iya balasan, bukan karma, teman. Itu berbeda.

         Tapi, apa faedahnya kita memahami 'persepsi'  ini ?

    Sebenarnya, aku tak begitu tertarik menyampaikan hal- hal yang berbau anjuran ataupun nasihat. Iya, sebenarnya. Biasanya, setelah seorang Aku memberitahukan hal-hal yang benar, Tuhan akan segera menimpalkan ujian. Because, i was thougt that life is studying. Iya, belajar, belajar dengan caranya masing-masing. Setelah bisa membandingkan hal yang benar dan salah, barulah kita memahami. Dan, bisa jadi tertarik untuk memberitahukan orang lain juga, mengenai hal yang benar dan salah.  Barulah, menurutku,   Tuhan akan memberikan tes.
 Dari anggapan tadi mampukah kamu mempertahankan-nya.  Yang memang sebenarnya benar. Cuman, kamu dituntut untuk bisa memegang pemahaman kamu tadi. Mampukah kamu  mempertanggungjawabkan-nya ? Kalau iya, berarti kamu lolos, mungkin di masalah yang akan datang, anggapan kamu tadi bukan hanya sebagai persepsi, tapi sebagai respon di lapangan.

    Life is never flat. Aku setuju dengan ungkapan itu. Nggak ada manusia di muka bumi ini yang hidup tanpa masalah. Pun juga kamu, yang  mungkin pernah berfikir ingin memiliki hidup yang ‘damai’. Hm, tapi, hidup damai itu bukan berarti bebas masalah, kan ? Iyalah, Rasulullah SAW aja yang jelas- jelas kekasih Sang Pencipta masih di kasih ujian, yang jauh lebih berat malah.  Kenapa, ya ?

  Terkadang, persepsi yang salah bisa menjatuhkan kita. Coba bedain, ketika masalah datang, ada di posisi manakah kamu diantara orang yang ‘anti masalah’ atau menolak untuk menghadapi masalah atau juga orang yang beranggapan bahwa masalah itu bencana dengan orang yang receiver problem.



   Sebenarnya, masalah itu bukan masalah, bagiku. Tapi terkadang aku juga terhanyut ke dalam masalah. Menurutku, masalah itu seperti tantangan saat main game. Iya, kamu dituntut bisa menyelesaikan ini dan itu, juga mengumpulkan ini itu. Jika kamu berhasil, barulah kamu lolos ke tahap selanjutnya. Hidup juga demikian dalam mengahadapi masalah. Mereka yang sudah lebih sukses dari kamu, tentu suka bermain game dan berada di level yang tinggi. Tapi, jika kamu tetap berada di comfort zone kamu, dimana kamu merasa nyaman dengan keberadaanmu saat ini, padahal kamu sama sekali gak produktif.  

   Jadi, penting bagi kita menganggap masalah itu sebagai tantangan. Iya, kamu di tantang. Alhamdulillah jika kamu sudah berjiwa kompetitif, jadi langsung hadapin dengan positive thinking dan beranggapan kalau kamu mampu, meski baru mau berusaha menghadapi. Jadi, turn over a new leaf, teman! Jangan takut menghadapi masalah, terlebih kamu harus tahu kalau masalah yang kamu hadapi akan menguatkan kamu bukan malah melemahkan. Iya, sama seperti minum obat sirup, mungkin ada rasa takut dalam diri kamu untuk meminumnya, tapi pada akhirnya kamu akan paham kalau obat itu penting.

Carpe diem, teman!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

Highly Sensitive Person (HSP)

     Setengah hari kemarin saya habiskan untuk menonton serial drama turki, Marasli, di Youtube. Nyaris selesai ditonton dari jumlah series yang tersedia hingga sadar ternyata series itu belum tamat. Mendadak tak bersemangat melanjutkan. Anggap saja, ini intuisi hati supaya di akhir episode yang ada tidak kecewa, penuh tanya, atau menerima realita kalau episode berikutnya akan tayang satu minggu lagi (minimalnya).    Hal sederhana yang mulai mengganggu adalah ternyata efek dari film itu benar-benar terbawa, baik emosi warna-warni seorang gadis bernama 'Mahur', gaya bahasa, juga potongan kejadian di film itu juga terasa berkeliling di kepala dalam beberapa waktu. Hal ini tentunya bisa dianggap wajar karena normal pada dasarnya merasa begitu. Namun tidak hingga saya menyadari bahwa semua yang dirasakan 'agak' mengganggu.    Dimulai dari saya yang telah mengakhiri aktivitas berselancar di medsos untuk tidur, my mind gave me some thoughts to be think of ...

How Was Your Limit Time?

       Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “ You just have a limit time, bro. ”           Pulang, kita semua pasti pulang. Entah kapan, hari ini, besok, atau minggu depan, hanya catatanNya yang mampu menyimpan rapat rahasia penjemputan itu.         Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics .         Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam ...