Langsung ke konten utama

Perempuan, Your Responsibility Is Your Perfect!

Peran Perempuan dalam Keluarga:

Perempuan, your responsibility is your perfect!

Lulu Fauziah Priyandini (18240007)

            Kata Zauj dalam al-Qur’an memiliki makna berkumpul, berpasang, dan bergabung. Kata ini biasa dikonotasikan pada baik pasangan suami isteri maupun dalam konsep pernikahan. Dari sinilah terdapat pula banyak pembahasaan yang menganjurkan adanya ikatan pernikahan antara laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dan menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis.  Islam sendiri menganjurkan adanya pernikahan yang bukan hanya menyatukan dua insan namun juga dua keluarga. Perempuan dan laki-laki yang sudah memiliki kesiapan dan kebutuhan dalam pernikahan dianjurkan segera melangsungkan pernikahan demi menjaga diri dan terhindar dari fitnah.

            Dalam Islam pula telah diatur antara hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki demi menciptakan kerukunan bersama. Hal-hal seperti ini diatur sedemikan rupa agar masing-masing pihak, baik suami maupun isteri dapat menyadari dan mampu menjalankan peranannya dengan baik. Terciptanya keluarga yang harmonis merupakan dambaan setiap keluarga, khususnya dalam keluarga muslim yang biasa juga diperkenankan dengan konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tiga konsep ini pun memiliki kandungannya masing-masing yang apabila terpenuhi menjadikan sebuah keluarga yang sejahtera.

            Menurut undang-undang No. 1 Tahun 1974 yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.[1] Sedangkan menurut hukum Islam perkawinan adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga yang diliputi rasa sayang dengan cara yang diridhoi Allah SWT.[2]

Hakikat pernikahan tentu bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat seksual atau sekedar pemenuhan hak dan kewajiban semata. Pernikahan merupakan perwujudan keluarga yang mana masing-masing anggotanya dapat merasakan rasa tentram, aman, dan bahagia. Unit tekecil inilah yang akan menjadi lingkungan sosial pertama setiap individu di lingkungan sosial. Untuk itulah diharapkan setiap keluarga dapat membangun kehidupan rumah tangga yang mampu menciptakan nilai-nilai tersebut dengan pemenuhan hak dan kewajibannya.

            Dalam sebuah keluarga memberikan nafkah itu wajib bagi suami sejak akad nikahnya sudah sah dan benar, maka sejak itu seorang suami wajib menanggung nafkah istrinya dan tentu berlakulah segala konsekuensinya secara spontan.[3]  Begitu pula seorang isteri yang telah berpindah tanggungannya yang mana sebelum menikah menjadi tanggung jawab ayahnya, kini ia menjadi tanggung jawab suaminya. Konsekuensi pernikahan juga muncul pada peran-peran sosok perempuan dalam keluarga. Adapun peran-peran tersebut terbagi menjadi tiga kategori sebagai berikut:

a. Peranan perempuan sebagai Ibu

Dalam Islam, ibu menempati posisi yang luar biasa. Istilah madrasatul ula yang disematkan kepada sosok ibu menunjukkan bahwa perhatian dan peranan ibu dalam membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anaknya adalah suatu peran yang istimewa. Istilah ibu sebagai sekolah pertama juga bermakna ibu sebagai generasi pendidik bagi anak-anaknya. Hal ini menunjukkan perlunya kelihaian, ulet, dan kebesaran hati bagi setiap sosok Ibu disamping menambah ilmu pengetahuan.

وَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ بِوَالِدَيۡهِ‌ۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.[4]

     Dari ayat di atas dapat dikatakan bahwa dalam Islam sangat dianjurkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua khususnya ibu, hal ini melihat bagaimana perjuangan dan jerih payah jasa seorang ibu yang telah mengandung, menyusui, dan membesarkan anak-anaknya. Implikasinya dapat berupa memberikan apresiasi padanya, selalu mengingat jasanya, dan selalu memberikan doa kepadanya.

     Ibu merupakan sosok yang cukup rapat dengan anak-anaknya. Terdapat ikatan yang kuat antara anak dan ibunya. Hal inilah yang juga mengindikasikan dengan kasih sayang, perhatian, dan cintanya anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sosok ibu dalam tumbuh kembang psikis dan fisik anaknya juga memiliki peran penting. Upaya ibu dalam memilih dan memilah sajian terbaik kepada anaknya, serta selalu adanya dukungan dan pendekatan kepada anak akan mendorong anak tersebut memiliki pribadi yang baik dan luhur. Disinilah peran-peran ibu tersebut diperlukan, tentunya pula dengan rasa cinta dan kasihnya yang tulus sepanjang masa.

b. Peranan perempuan sebagai Isteri

Sebelum memegang peran sebagai seorang Ibu, terlebih dulu seorang perempuan akan menyandang peran sebagai isteri. Tak kalah penting dari peran seorang Ibu, seorang isteri juga memiliki andil besar dalam menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga. Dalam setiap rumah tangga biasanya terdapat kesepatan-kesepakatan yang dimiliki dalam menjalankan rumah tangga. Hal ini ditunjukkan untuk mengambil jalan terbaik agar aktivitas dan kenyamanan dalam rumah tangga dapat tercapai dengan baik.

Apabila ijab qabul telah sah, maka wajiblah bagi seorang isteri untuk mentaati suaminya. Sehubung dengan bergesernya tanggung jawab pada pihak laki-laki yang kemudian bergelar suami, begitu pula isteri yang salah satunya memiliki kewajiban dalam mentaati suaminya. Taat suami merupakan hal yang diwajibkan selama hal-hal tersebut tidak melanggar norma hukum dan akidah.

c. Peranan perempuan sebagai anggota masyarakat

Menyandang peran sebagai seorang isteri dan ibu bukan berarti menggugurkan peran-peran seorang perempuan di tengah masyarakat. Pernikahan bukanlah sebuah benteng bagi perempuan untuk membatasi dirinya di lingkungan sosial. Apabila peran dan tanggungjawab seorang perempuan antara urusan rumah tangga dan lingkup masyarakatnya dapat terlaksana dan terbagi dengan baik, tentu bukanlah sebuah masalah untuknya dalam mengembangkan diri dan menembar kebermanfaatan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal yang menjadi hak dan kewajiban setiap anggotanya. Hak dan kewajiban itu harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari. Al-Quran sebagai rujukan prinsip dasar masyarakat Islam menunjukkan bahwa pria dan wanita diciptakan dan satu nafs (living entity), di mana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain dan mempunyai hak dan kewajiban sama.[5]

 

Dalam mahligai rumah tangga, baik suami maupun isteri memiliki peranan dan tanggungjawabnya masing-masing. Suami sebagai kepala keluarga memiliki hak untuk ditaati oleh isterinya dan begitu pula seorang isteri yang memiliki peran-peran istimewa dalam keluarganya. Setelah menikah, seorang perempuan bukan hanya akan memiliki peran baru sebagai isteri, namun juga seorang ibu, dan andil di tengah masyarakat. Peran-peran perempuan terlihat begitu istimewa dalam perannya sebagai seorang isteri yang melayani suaminya, sebab dimana keridhoan suami distulah ladang pahala baginya. Tak sampai disitu, perjuangan mengandung, membesarkan, dan mendidik putra-putrinya adalah perjalanan yang luar biasa yang dilakukan oleh seorang perempuan. Kasih sayangnya yang tidak putus adalah bukti nilai ketulusan seorang ibu.           



1] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, (Yogyakarta: andi offset, 1998), h. 105

[2] Ahmad Azhar Basyir. Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Pres Yogyakarta), h. 70

[3] Bayu Suprioyono, “Peran Perempuan dalam Keluarga Menurut Hukum Keluarga Islam: (Studi Perempuan Pedagang di Pasar Tejo Agung Kecamatan Metro Timur Kota Metro)”,(Undergraduate Thesis, IAIN Metro, 2019), https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/2568/1/Tesis%20Fix.pdf.  

[4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 412.

[5] Siti Muri’ah, Nilai-nilai Pendidikan Islam dan Wanita Karier, (Semarang: Rasail Media Group, 2011), h. 159.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

How Was Your Limit Time?

       Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “ You just have a limit time, bro. ”           Pulang, kita semua pasti pulang. Entah kapan, hari ini, besok, atau minggu depan, hanya catatanNya yang mampu menyimpan rapat rahasia penjemputan itu.         Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics .         Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam ...

Sampai Kapan?

 Belakangan banyak aku bertanya, apakah hidup yang kujalani sudah sesuai yang aku inginkan. Haha hidup memang gak bakal sepenuhnya sama seperti dambaan kita, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk berproses dan berencana, jika diberi, maka alhamdulillah, kalau belum berarti ada hal lain yang sudah disiapkan. Beginilah kisah kegalauanku wkwk.. Menginjak usia dua puluh empat tahun terkadang bikin aku was was sendiri, iya, gak baik emang. Rasa-rasanya aku sudah mulai menapaki kehidupan, ceilah. Jadi dewasa terkadang terasa begitu menakutkan. Seberapa mandiri aku kini? Seberapa bisa aku hidup besok jika orang tuaku sudah tua renta, tidak ada lagi tempat untukku mengurai masalah dan tujuan akhir kalau aku terdesak ekonomi wkwkw. Tenang gais, aku udah kerja kok, cuma masih belum pinter aja ngelola keuangan. Jadi kepikiran aja nanti kalau terus-terusan gini kan gak baik ya. Alhamdulillah aku masih tinggal sama mama, juga kedua orang tuaku alhamdulillah masih ada dan sehat wal afiat. ...