Berbicara tentang menikah jujur dua tahun yang lalu tepatnya awal pertama aku menginjakkan kaki di Malang, adalah moment yang kadang bikin geli sendiri di saat ini jadi pembicaraan hangat temen-temen kamar Ma’had. Nikah memang moment yang spesial, tapi enggak juga mesti dibahas melulu kan, toh itu juga hal yang InsyaaAllah didapati dalam waktu beberapa tahun ke depan. Terbilang kaget dan gemas sendiri kalau lagi-lagi nikah sedang marak diperbincangkan. Kalau bisa kembali ke waktu itu dan mengutarakan isi pikiranku mungkin hanya cerurutan yang ada di kepalaku haha “Bahas nikah lagi? Apa sih, sekolah dulu kali!”
By the way tiba-tiba membahas nikah bukan berarti aku sedang proses akan menikah juga sih hehehe. Cuman enam bulan belakang, entah kenapa pembahasan ini berasa seru. Mulai dari psikologi wanita dan pria yang ternyata itu seru banget buat dipelajari, misalnya materi di Man are from Mars and Woman from Venus (MMWV), materi kajian Dr. Aisyah Dahlan, atau juga pasangan influencer muda yang berbagi kehidupan awal perkenalan hingga mereka berumah tangga. Oh iya, sebenarnya ada banyak buku seputar rumah tangga dan kewanitaan yang seru untuk dikaji.
Banyak sedikit yang aku pelajari, alhamdulillah setidaknya aku paham kalau pola pikir laki-laki dan perempuan itu berbeda. Perempuan cenderung perasa, baperan. Sedangkan laki-laki sukanya pakai logika, rasional. Laki-laki itu layankya per, ada kalanya ia begitu rapat dan ada kalanya ia akan melepaskan tegangan rapatan itu, melonggar. Artinya pada suatu hubungan misalnya, nggak selamanya dia berada di dekat kita dengan emosi positif yang sama, tapi ada masanya dia juga akan menjauh. Kalau bahasannya dalam buku MMWV tadi mereka sedang memasuki gua-gua mereka, butuh sendiri. Begitu juga dalam tekanan, kita nggak selalu harus berada di samping sepanjang waktu, eh maksudnya kalau dia sedang punya tekanan ya. Bukan berarti kalau dia ada masalah kita cuek, ga peduli, tapi memberikan dia space untuk menemukan solusinya sendiri. Nah, pada fase dia menjauh pada opsi pertama bisa kita jadikan momentum buat muhasabah diri juga hehe. Kali aja onti ada khilafnya, kali aja.
Belum berakhir disitu bahasan Dr. Aisyah Dahlan juga gak kalah seru. Laki-laki itu senang melihat sesuatu yang bergerak, kalau kita banyak gerak sebenarnya itu akan jadi perhatian pasangannya. Mereka juga suka senyuman dari wanita, ya ya meskipun ekspresi mereka datar, kata Dr. Aisyah Dahlan sebenarnya mereka menyukai itu. Cie cie. Lanjut nih ya wkwk, lumayan kan ilmunya dishare disini, prakteknya insyaaAllah menyusul. Laki-laki, mereka itu butuh untuk dikagumi, dirajai, artinya sebagai sosok laki-laki ya kudu merasa kalau mereka itu punya kuasa, rasa kejantanannya. Berbeda dengan wanita yang memerlukan rasa dihargai, diperhatikan, dan dikasihi.
Lanjut dari pasangan muda, Kak Fadel dan Kak Hanny yang baru saja kedatangan malaikat cantiknya beberapa hari lalu. Mereka banyak banget sharing tentang awal perkenalan, lika-liku menuju pernikahan dan juga berumah tangga. Kerennya mereka menjalani semua itu, membagikannya pada orang lain, dan terus mau belajar. Mantep sih.
Okay sekarang bagaimana dengan aku sendiri, nih ? Hehe. Setelah mengikuti serial materi persiapan menuju hari H, aku sendiri alhamdulillah memiliki catatan. Memang mimin gak tau sih nanti bakal sama siapa tapi setidaknya dia ialah seorang yang baik agamanya, baik budi pekertinya dan bertanggung jawab. Udah biasa ya? Hehe tapi serius itu benar-benar aspek penting yang harus kita nilai, begitu pesan Ayah dan salah satu Ustadz yang mengisi di pondokku saat ini.
Catatan khususnya ialah kita harus bisa jadi pasangan yang saling mengingatkan, mau sama-sama belajar, dan mau mengerti. Hehe begitulah. Semoga Allah memudahkan siapa saja yang berniat baik dan senantiasa memperbaiki dirinya, aamiin.
Komentar
Posting Komentar