Langsung ke konten utama

Terima kasih, Ibu dan Ayah!


   Hari ini aku teringat akan pola asuhan Ayah dan Ibu belasan tahun lalu. Bagaimana mereka mengerahkan usaha untuk mendidik putra-putrinya. Meskipun sudah amat sangat lama, rasanya tidak salah untuk membuat resume singkat untuk mengenang upaya mereka di masa kecil dulu hehehe.

   Kita mulai dari sosok Ibu yang kupanggil 'Mama' ini. Aku ingat sekali betapa rajinnya ia mengantarkan aku untuk les tambahan sejak TK sampai Sekolah Dasar. Tempat les yang berjarak beberapa rumah hingga harus diantar menggunakan motor. Sayangnya aku tak mengingat bagaimana kesan les tambahan ini. Hal seru yang aku ingat ialah monyet peliharaan yang berada tak jauh dari rumah guru tempat les TK dulu, betapa bahagianya jika sudah melirik monyet ini hahaha :).

   Mama adalah guru yang menyenangkan, namun tidak hingga pelajaranku (red : matematika) mulai terasa sulit, les adalah pilihannya. Saat masih Sekolah Dasar tentu sudah mulai diharuskan menghafal perkalian dasar, trik Mama ialah mengajakku menghafal dan bila sukses disetorkan, Mama akan membawaku ke toko bernama 'Tweety', jika tidak salah itu namanya hihihi. Disana bocah cilik ini akan dibebaskan memilih salah satu dari perhiasan seperti ikat rambut, gelang-gelangan, atau perhiasan mungil lainnya. Senang ? Tentu saja. 

   Sejak kecil aku senang sekali bermain 'di rumah teman', mungkin karena kakak-kakakku sudah mulai sibuk di sekolahannya atau merasa terlalu bosan di rumah. Aku suka bermain di rumah teman + tetangga ini. Biasanya jika sudah agak siangan, telepon rumah temanku akan berdering, seseorang dari telepon menanyai keberadaanku dan memintaku segera pulang. Padahal aku ingat sekali betapa menyenangkannya menghabiskan waktu bermain 'Feeding Frenzy', 'Varmintz', atau 'Hamster Ball' di komputernya. 

   Baiklah sekarang kita bergeser ke sosok Ayah. Ayah adalah sosok yang paling tidak suka jika anaknya menangis. Jangan-jangan ini yang membuat aku sedikit tricky saat meminta sesuatu padanya (?). Okay lanjut, aku ingat saat kecil ayah memprintkan satu-satu jadwal pada anak-anaknya. Jadwal ini ialah jadwal keseharian dari bangun pagi hingga tidur di malam hari. Jadwal yang ia buat di Ms. Word dan dihiasi bordiran bunga serupa bingkai. Aku tidak ingat apakah aku berhasil menjalankan semuanya dan bagaimana hasilnya hehehe.

   Mari berpindah ke cerita lain, sewaktu kecil aku ialah sosok yang amat takut dengan mesin fogging, alat yang digunakan untuk memberantas nyamuk + mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring. Alhasil, ketakutanku ini yang membuat Ayah harus menyadarkanku dengan menyalakan motornya dan membawaku ke usaha mebel yang jaraknya tak jauh dari rumah. Apa ini sebab aku menolak pergi les, ya? wkwk.

   Part yang terkahir ini adalah tentang aku yang sulit makan diantara saudara-saudariku. Jika suatu malam pergi keluar bersama, aku diperbolehkan membeli mainan yang ku idam-idamkan jika bisa menghabiskan satu mangkuk mie pangsit di warung Adelia :). Dulu, itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Untunglah sekarang tidak ๐Ÿ˜‚. Ingin sekali rasanya menyeludup ke masa itu dan membantu lulu kecil makan. Alhamdulillah, kalau sekarang masalah makan tidak perlu dipertanyakan. 

   Begitulah kilas balik masa kecilku. Terima kasih kepada Ibu dan Ayah ๐Ÿ™‚๐Ÿค
Seru juga membaca ulang dan menyadari variatif ekspresi haha hihi hehe di tulisan ini ๐Ÿ˜†.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

How Was Your Limit Time?

       Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “ You just have a limit time, bro. ”           Pulang, kita semua pasti pulang. Entah kapan, hari ini, besok, atau minggu depan, hanya catatanNya yang mampu menyimpan rapat rahasia penjemputan itu.         Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics .         Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam ...

Sampai Kapan?

 Belakangan banyak aku bertanya, apakah hidup yang kujalani sudah sesuai yang aku inginkan. Haha hidup memang gak bakal sepenuhnya sama seperti dambaan kita, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk berproses dan berencana, jika diberi, maka alhamdulillah, kalau belum berarti ada hal lain yang sudah disiapkan. Beginilah kisah kegalauanku wkwk.. Menginjak usia dua puluh empat tahun terkadang bikin aku was was sendiri, iya, gak baik emang. Rasa-rasanya aku sudah mulai menapaki kehidupan, ceilah. Jadi dewasa terkadang terasa begitu menakutkan. Seberapa mandiri aku kini? Seberapa bisa aku hidup besok jika orang tuaku sudah tua renta, tidak ada lagi tempat untukku mengurai masalah dan tujuan akhir kalau aku terdesak ekonomi wkwkw. Tenang gais, aku udah kerja kok, cuma masih belum pinter aja ngelola keuangan. Jadi kepikiran aja nanti kalau terus-terusan gini kan gak baik ya. Alhamdulillah aku masih tinggal sama mama, juga kedua orang tuaku alhamdulillah masih ada dan sehat wal afiat. ...