Langsung ke konten utama

Postingan

PEMAIN

   Kita adalah pemain sekaligus penyandang beberapa peran di waktu tertentu. Bayi mungil merah yang dilahirkan 40 tahun lalu 'tak lain adalah sumber kebahagiaan di dua punggung yang telah amat menanti, di waktu yang sama, juga sebagai sumber kepenatan mulai dari penjagaan malam hingga membesarkannya.    Lima tahun pertamanya ialah layaknya bayi hingga balita pada umunya, perannya 'tak lain sebagai penyebab rasa bahagia, syukur, penat dan juga semangat bagi kedua orang tuanya, ialah bocah yang sudah mulai mengenal 'aku'nya.    Bergeser pada lima tahun berikutnya, bocah ini mulai lebih mengatur emosinya, berekspresi pada tempatnya dan kedua orang tuanya dengan perasaan yang sama, si bocah sebagai sumber rasa bahagia, syukur, penat dan juga semangat.      Sepuluh tahun berlalu, kita biasa mengenal istilah 'masa mencari jati diri' di fase-fase terakhir. Anak muda memang suka banyak tingkah, banyak ulah, itulah semangat darah muda, kat...

Terima kasih, Ibu dan Ayah!

   Hari ini aku teringat akan pola asuhan Ayah dan Ibu belasan tahun lalu. Bagaimana mereka mengerahkan usaha untuk mendidik putra-putrinya. Meskipun sudah amat sangat lama, rasanya tidak salah untuk membuat resume singkat untuk mengenang upaya mereka di masa kecil dulu hehehe.    Kita mulai dari sosok Ibu yang kupanggil 'Mama' ini. Aku ingat sekali betapa rajinnya ia mengantarkan aku untuk les tambahan sejak TK sampai Sekolah Dasar. Tempat les yang berjarak beberapa rumah hingga harus diantar menggunakan motor. Sayangnya aku tak mengingat bagaimana kesan les tambahan ini. Hal seru yang aku ingat ialah monyet peliharaan yang berada tak jauh dari rumah guru tempat les TK dulu, betapa bahagianya jika sudah melirik monyet ini hahaha :).    Mama adalah guru yang menyenangkan, namun tidak hingga pelajaranku (red : matematika) mulai terasa sulit, les adalah pilihannya. Saat masih Sekolah Dasar tentu sudah mulai diharuskan menghafal perkalian dasar, trik M...

Surat untuk Wai Tsz

                 Thanked to my lovely friends Echa, Ikhsan, and Arni for this project. Well, this is our assignment  when we're senior high school before. I feel dear to thrown it away. Well, enjoy it !  https://drive.google.com/file/d/0ByhzU_IGZ3ukSGZtMEUzOHdWRVE/view?usp=drivesdk  made on 21 Oktober 2016     Jadi, itu tugas rekaman waktu kelas sebelas di SMA dulu. Dibuang sayang. Silahkan copy dan buka di page baru. Selamat menikmati :)

GWERB (1)

Kepada Tuan yang baru di hari ini kita terasa saling dekat. Ada banyak pria, tapi rasa ini, entah mengapa, ada. " Jangan menatapku dengan gaya, Tuan. Nanti aku suka, bagaimana ?" Dan aku terlambat untuk memberi tahu hingga akhirnya kau sukses, sedikit. Huh. Apa-apaan ini.    "Jangan lagi ya, Tuan. Aku khawatir, itu semua akan merubah segalanya. Duniaku, maksudku" Tapi bagaimana bila kau datang lagi, dengan gaya yang sama, gaya yang kau buat itu .  " Tuan, jangan sekarang. Kau boleh datang, tapi tidak saat ini"  

Kepada Tuhan (2)

Tuhan... Aku khawatir bila aku akan jatuh cinta kelak. Engkau tahu benar, jenis rasa suka apa yang aku maksud ini. Iya, rasa suka yang duluan menembus hatiku bahkan tanpa meminta izin. Rasa itu muncul saja, atau aku yang terus memancing kehadirannya tanpa sadar. Aku khawatir, Tuhan. Bagaimana bila aku menemukan sosok dia yang aku cari. Bagaimana bila aku jatuh hati padanya ? Di usiaku yang belum pasti dapat dikatakan boleh untuk memiliki hubungan. Karena pada saat itu aku yakin, akan ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Aku khawatir, Tuhan.. Atau, bagaimana jika dia yang datang ? Dengan  berani dia bawa dirinya padaku. Mengatakan bahwa dia ingin menetap. Dan berjanji akan berada di tempat yang sama. Dan berlaku bahwa ' semua akan baik-baik saja, Lu' Tidak. Dia salah. Benar, kan? Karena sebaik-baiknya ada yang menyukaiku, dia tidak harus menunjukkannya. Dia tidak harus berbuat banyak untuk itu, terutama agar aku tahu. Karena, bila aku menyukaimu pun, akan kucoba ...

BOLEH, ASAL BERBATAS

     Sesuatu yang berfaedah Lu, ingat!       Menyukai itu seperlunya saja, kawan. Juga, cukup kamu dan Tuhan yang tahu. Mereka jangan.         Jadi gini, penulisan ini mungkin terinspirasi dari diriku sendiri. Iya, aku yang dulu. Masa jahiliyah-nya seorang aku. Juga, oleh beberapa fangirl.  Mungkin, ada banyak definisi fangirl di luar sana. Paham yang kita bahas, yaitu fangirl yang terlalu overload ke doi ya, kawan. Yang mengorientasikan waktu dan materinya ke doi. Atau yang over responsive kalau ketemu doi-nya.     Tapi, jangan salah juga sih . Aku juga pernah jadi fangirl . Iya, waktu masih awal-awal masuk sekolah menengah atas. Jadi adik kelas yang unyu-unyu gitu . Untungnya excited fangirl -nya ke-kubur dalam hati , apalagi kalau ketemu. Ayolah, untuk apa kita cengar-cengir tak jelas. Dia bukan Shawn Mendes, atau juga Justin Beiber, kan?      Berdasarkan pengalaman pribadi. ...

PERPISAHAN BERBUAH LUKA

      Dari dulu, aku tidak menyukai perpisahan . Iya, entahlah 'dulu' yang mana yang kusebut ini. Mungkin, karena perpisahan membuat aku mengenang hal-hal yang telah terjadi. Buruk ataupun indah. Kenangan indah akan terasa menyakitkan juga, bagiku. Iya, aku akan merindui itu. Tapi, untungnya aku tidak pandai mengingat hal-hal buruk yang sudah terjadi.         Aku tidak tahu mengapa mengingat kembali membuat aku ingin ke masa-masa itu. Dalam hal apapun. Sedihkah atau senangkah.  Salam perpisahan, juga. Membuat seakan-akan sebuah pertemuan atau hubungan cukup sampai di titik itu dulu. Kalimat yang kuterima, atau ucapan yang kudengar langsung ter-tata begitu saja. Tidak tahu mengapa, jangan ucapkan kalimat perpisahan padaku, teman.  Sekian,  from an overly sensitive heart.