Langsung ke konten utama

PEMAIN


   Kita adalah pemain sekaligus penyandang beberapa peran di waktu tertentu. Bayi mungil merah yang dilahirkan 40 tahun lalu 'tak lain adalah sumber kebahagiaan di dua punggung yang telah amat menanti, di waktu yang sama, juga sebagai sumber kepenatan mulai dari penjagaan malam hingga membesarkannya.

   Lima tahun pertamanya ialah layaknya bayi hingga balita pada umunya, perannya 'tak lain sebagai penyebab rasa bahagia, syukur, penat dan juga semangat bagi kedua orang tuanya, ialah bocah yang sudah mulai mengenal 'aku'nya.

   Bergeser pada lima tahun berikutnya, bocah ini mulai lebih mengatur emosinya, berekspresi pada tempatnya dan kedua orang tuanya dengan perasaan yang sama, si bocah sebagai sumber rasa bahagia, syukur, penat dan juga semangat.
 
   Sepuluh tahun berlalu, kita biasa mengenal istilah 'masa mencari jati diri' di fase-fase terakhir. Anak muda memang suka banyak tingkah, banyak ulah, itulah semangat darah muda, katanya. Pada fase ini rasa tanggung jawab baik untuk mulai dimatangkan. Beberapa peran 'nyata' mulai ditorehkan, jangka pendek maupun panjang. Berat maupun ringan. Menjadi ketua ekstrakulikuler di sekolah misalnya atau bahkan memiliki kesadaran untuk menolong tanpa diminta.

   Waktu terus berjalan, seseorang tadi mulai beralih menjadi dewasa. Menemukan pekerjaan ialah hal yang dirasa harus didapatkan. Tanggung jawab dan masalah baru yang telah pasti sesuai bahunya.

   Beragam peran yang akan dimiliki setiap 'kita' pada waktu-waktu tertentu. Sederhana atau rumit, mencoba meyakinkan diri untuk bisa melewatinya, meski kadang ragu suka mengganggu. Untuk itu cukup mengagumkan untuk bisa bukan sekedar memahami tapi memainkan peran terbaik. Sebagaimana kita menerima bahwa setiap pemain memiliki porsinya masing-masing.

   Tak lepas dari itu semua, kesadaran bahwa diri ialah 'hamba' barangkali akan lebih melapangkan dada. Menyadari bahwa secara tidak langsung kita selalu bergandengan dengan peran dan tanggung jawab. Semoga selalu tertancap, diingat, dan membuat penulis enggan berdiam terlalu lama. Sekecil apapun, kita selalu punya andil, bukan ?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

❤️

    Ini artinya apa? Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Sangat mungkin bagi Allah menjadikan yang sulit terasa mudah atau pula sebaliknya. Tetap beriktiar, langitkan do'a, dan pasrahkan ke depannya padaNya. Sungguh aku pun tidak berdaya dalam hal ini. Lagi-lagi aku teringat bahwa bisa jadi ada suatu perkara dalam hidupku yang mana aku tidak begitu menyukainya namun bagiNya itulah yang terbaik, atau pula ada perkara yang aku sukai namun bagiNya itu bukan yang terbaik. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun. Bismillah. Tetap berserah kepadaNya.. Coba ingatlah momen dimana aku ditakdirkan untuk masuk ke UIN Malang, sungguh aku malu berdo'a pada Rabb ku hari itu, aku memohon padaNya yang terbaik sedang aku merasa itulah pilihan yg mungkin terbaik.  Walhasil hari-hariku di UIN Malang bukanlah hari yang mudah. Masuk ke sana saja adalah hal yg ternyata amat sulit (catat: amat sulit). Namun nilai2 ambisku selama SMA di Smansa memberikan jawaban tersendiri. Buah dari kej...

How Was Your Limit Time?

       Setelah kepulangan orang-orang terdekat belakangan, kabar duka terasa menampar dan menyadarkan, “ You just have a limit time, bro. ”           Pulang, kita semua pasti pulang. Entah kapan, hari ini, besok, atau minggu depan, hanya catatanNya yang mampu menyimpan rapat rahasia penjemputan itu.         Hidup dalam panggung sandiwara Tuhan, semua layaknya pemeran yang tentu saja memiliki jam tayang yang berbeda-beda. Peran dan tugas yang berbeda, sesederhana kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, it simply basics .         Berbicara membandingkan diri dengan orang lain, bukankah itu terkadang hal yang suka kita lakukan ? I guess, it’s okay for some of things, but don’t swallow it all. Membandingkan diri memiliki pengaruh yang baik, salah satunya adalah mengukur kapasitas diri kita. But if we’re just too blind of it, you just will get the risk. Jika kita berlarut dalam ...

Sampai Kapan?

 Belakangan banyak aku bertanya, apakah hidup yang kujalani sudah sesuai yang aku inginkan. Haha hidup memang gak bakal sepenuhnya sama seperti dambaan kita, tapi setidaknya kita punya kesempatan untuk berproses dan berencana, jika diberi, maka alhamdulillah, kalau belum berarti ada hal lain yang sudah disiapkan. Beginilah kisah kegalauanku wkwk.. Menginjak usia dua puluh empat tahun terkadang bikin aku was was sendiri, iya, gak baik emang. Rasa-rasanya aku sudah mulai menapaki kehidupan, ceilah. Jadi dewasa terkadang terasa begitu menakutkan. Seberapa mandiri aku kini? Seberapa bisa aku hidup besok jika orang tuaku sudah tua renta, tidak ada lagi tempat untukku mengurai masalah dan tujuan akhir kalau aku terdesak ekonomi wkwkw. Tenang gais, aku udah kerja kok, cuma masih belum pinter aja ngelola keuangan. Jadi kepikiran aja nanti kalau terus-terusan gini kan gak baik ya. Alhamdulillah aku masih tinggal sama mama, juga kedua orang tuaku alhamdulillah masih ada dan sehat wal afiat. ...